Ketika berbicara tentang para pendiri sosiologi, nama Émile Durkheim hampir tidak mungkin dilewatkan. Jika Auguste Comte adalah sosok yang memberikan pondasi awal bagi lahirnya sosiologi, maka Durkheim adalah arsitek yang membangun dinding-dindingnya. Ia bukan hanya seorang teoritikus, tetapi seorang pendidik, peneliti, dan pemikir yang sangat percaya bahwa masyarakat dapat dipahami secara ilmiah. Keyakinan ini melahirkan salah satu perjalanan intelektual paling penting dalam sejarah ilmu sosial.
Durkheim hidup pada masa penuh perubahan. Ia lahir pada tahun 1858 di Épinal, sebuah kota kecil di timur laut Prancis, dari keluarga Yahudi yang taat. Tapi dunia yang melingkupinya berubah cepat: industrialisasi, urbanisasi, revolusi politik, dan transformasi sosial membuat masyarakat Prancis mengalami guncangan yang tidak kecil. Durkheim tumbuh dalam kondisi yang membuatnya terus bertanya: mengapa perubahan membuat banyak orang kehilangan pegangan? Mengapa beberapa masyarakat stabil sementara yang lain rapuh? Apa sebenarnya yang membuat masyarakat tetap bertahan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya membawa Durkheim menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sosiologi klasik.
Durkheim dibesarkan dalam tradisi keagamaan Yahudi, namun sejak remaja ia mulai merasa bahwa jalur spiritual keluarganya bukan jalan yang ingin ia tempuh. Ia memilih jalur akademik dan melanjutkan studi ke École Normale Supérieure di Paris, sebuah institusi elite yang melahirkan banyak intelektual besar Prancis. Di sinilah ia mulai mempelajari filsafat, namun kemudian ia merasa bahwa filsafat saja tidak cukup untuk menjelaskan fenomena sosial yang kompleks.
Ia ingin sesuatu yang lebih konkret, lebih terukur, dan lebih dekat dengan realitas hidup manusia sehari-hari. Dari sinilah ketertarikannya pada ilmu sosial mulai tumbuh. Ketika sosiologi masih dianggap “filsafat yang diperluas”, Durkheim memiliki ambisi lain: ia ingin menjadikannya disiplin ilmiah yang sejajar dengan biologi, psikologi, atau antropologi. Ia ingin sosiologi berdiri sendiri.
Karena itulah, tahun-tahun awal kariernya banyak diisi penelitian mendalam tentang institusi sosial, moralitas, pendidikan, agama, dan keteraturan sosial.
Durkheim merasa bahwa masyarakat tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang individu. Bagi banyak pemikir sebelum dia, manusia adalah makhluk rasional yang mengambil keputusan berdasarkan pilihan pribadi. Namun Durkheim melihat kenyataan lain: manusia justru sering kali mengikuti aturan yang tidak ia buat sendiri. Mengapa orang menikah? Mengapa orang merasa harus punya pekerjaan tetap? Mengapa seseorang bisa merasa bersalah meskipun tidak ada yang mengetahui kesalahannya? Semua itu, menurut Durkheim, adalah tanda bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari sekadar kehendak individu.
Ia ingin menjelaskan “apa” yang mengikat manusia dalam sebuah masyarakat, “apa” yang membuat masyarakat tertib, serta “apa” yang menyebabkan kekacauan ketika aturan itu goyah.
Durkheim adalah salah satu tokoh utama dalam sosiologi klasik, berdampingan dengan Karl Marx dan Max Weber. Namun pandangannya berbeda dari keduanya. Marx fokus pada konflik kelas dan dinamika ekonomi. Weber menyoroti tindakan sosial dan makna. Sedangkan Durkheim memusatkan perhatiannya pada keteraturan sosial dan bagaimana masyarakat mempertahankan integritasnya.
Ia adalah seorang fungsionalis awal — seorang pemikir yang percaya bahwa setiap elemen dalam masyarakat memiliki fungsi menjaga keseimbangan. Namun ia bukan sekadar teoritikus; ia juga seorang metodolog yang kuat. Ia menegaskan bahwa sosiologi harus menggunakan metode ilmiah: data, observasi, perbandingan, dan analisis sistematis.
Durkheim mengembangkan pemikirannya di Prancis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ini adalah masa ketika negara-negara Eropa sedang beralih dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Pabrik tumbuh di mana-mana, kota dipenuhi pendatang baru, pola hidup berubah, dan kepercayaan tradisional mulai goyah.
Prancis sendiri sedang berada dalam ketegangan politik yang tinggi setelah kekalahan dalam Perang Prancis-Prusia dan jatuhnya Kekaisaran Prancis. Banyak orang kehilangan rasa stabilitas. Keadaan sosial yang rapuh ini sangat mempengaruhi cara Durkheim memandang dunia: menurutnya, perubahan sosial perlu dipahami, bukan ditakuti. Dan untuk memahami perubahan, kita butuh ilmu—bukan asumsi.
Meskipun pemikirannya lahir pada masa industrialisasi, ide-ide Durkheim justru menjadi semakin relevan di abad ke-21. Di era digital seperti sekarang, banyak fenomena yang hanya bisa dijelaskan dengan kacamata Durkheim: kehilangan arah (anomie), atomisasi sosial, budaya online yang homogen, hingga munculnya komunitas-komunitas digital yang punya aturan sendiri.
Ketika dunia terasa semakin cepat, semakin bising, dan semakin tidak pasti, teori Durkheim menjadi alat untuk memahami bagaimana manusia tetap berusaha mencari pegangan sosial.
Durkheim meyakini bahwa masyarakat modern memerlukan aturan, institusi, nilai, dan solidaritas untuk bertahan. Tanpa itu, manusia bisa terjebak dalam perasaan kosong, kehilangan makna, dan terasing. Itulah sebabnya ia sering disebut sebagai ilmuwan moral—bukan karena menggurui, tetapi karena ia mencoba memahami bagaimana moralitas bekerja dalam masyarakat.
Ia ingin menjawab pertanyaan mendasar:
“Apa yang membuat kita tetap merasa terhubung satu sama lain?”
Durkheim menggunakan metode ilmiah. Ia tidak berhenti pada ide atau spekulasi, tetapi melakukan studi kasus, perbandingan lintas budaya, dan analisis terhadap data nyata. Buku-bukunya, termasuk The Division of Labour in Society (1893), The Rules of Sociological Method (1895), dan Suicide (1897), menjadi karya yang menentukan arah sosiologi sebagai ilmu.
Durkheim percaya bahwa masyarakat bekerja seperti organisme hidup. Setiap bagian memiliki fungsi, dan jika salah satu bagian terganggu, keseimbangan bisa rusak. Untuk menjelaskan ini, ia memperkenalkan konsep fakta sosial. Fakta sosial adalah segala sesuatu yang berada di luar diri kita tetapi membentuk cara kita bertindak—mulai dari bahasa, agama, peraturan, hingga tradisi. Terkadang kita tidak menyadari keberadaannya, tapi faktanya, kita sangat dipengaruhi olehnya. Ketika seseorang pergi ke kantor tepat waktu, ketika seseorang merasa perlu merayakan ulang tahun, atau ketika seseorang merasa malu karena melanggar aturan sosial, semua itu adalah contoh fakta sosial.
Dalam buku tentang pembagian kerja, Durkheim melihat bagaimana masyarakat tradisional dan masyarakat modern memiliki cara berbeda dalam mempertahankan keteraturan. Dalam masyarakat tradisional, hubungan antarindividu cenderung homogen. Nilai dan pekerjaan hampir sama, sehingga keterikatan muncul karena kesamaan. Durkheim menyebut ini sebagai solidaritas mekanik.
Namun dalam masyarakat modern, pembagian kerja membuat orang semakin berbeda satu sama lain. Setiap orang memiliki peran yang unik, seperti organ dalam tubuh. Kita tidak lagi bergantung pada kesamaan, tetapi pada kebutuhan satu sama lain. Ini adalah solidaritas organik, sebuah bentuk solidaritas yang lahir dari interdependensi.
Di titik inilah Durkheim melihat sebuah bahaya. Modernitas membawa kebebasan dan keragaman, tetapi juga membawa risiko hilangnya aturan yang jelas. Ketika norma sosial melemah atau menjadi kabur, individu merasa tidak lagi memiliki arah. Durkheim menyebut keadaan ini sebagai anomie. Anomie bisa muncul saat ekonomi berubah terlalu cepat, saat teknologi mengambil alih kebiasaan lama, atau ketika nilai tradisional digantikan oleh nilai baru yang belum mapan.
Dalam konteks digital saat ini, anomie dapat terlihat dari fenomena doomscrolling, over-information, budaya viral, dan tekanan eksistensial dari dunia media sosial. Semuanya membuat manusia terasa semakin bebas, namun pada saat yang sama semakin kehilangan pegangan.
Salah satu karya Durkheim yang paling terkenal adalah studinya tentang bunuh diri. Ini adalah contoh luar biasa bagaimana ia menekankan pentingnya melihat masalah personal sebagai bagian dari struktur sosial. Banyak orang mengira bunuh diri adalah keputusan sepenuhnya individual. Tetapi Durkheim menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri ternyata mengikuti pola sosial tertentu. Ia menemukan bahwa masyarakat dengan integrasi sosial rendah memiliki tingkat bunuh diri lebih tinggi.
Lebih menarik lagi, ia juga menemukan bahwa masyarakat yang terlalu menekan anggotanya juga bisa menyebabkan peningkatan kasus bunuh diri. Artinya, baik kekurangan maupun kelebihan kontrol sosial dapat menjadi masalah. Sampai hari ini, studi Durkheim tetap menjadi salah satu penelitian paling terkenal dalam sosiologi modern.
Walau hidup lebih dari seratus tahun yang lalu, Durkheim hampir seperti “meramalkan” dunia digital saat ini. Ketika internet menciptakan komunitas besar dan kecil, ketika media sosial menciptakan nilai moral baru, ketika budaya online membentuk cara kita berpikir dan berinteraksi, pemikiran Durkheim membantu kita melihat bahwa semua itu adalah fakta sosial baru. Mereka mengatur hidup kita meski kita tidak menyadarinya.
Solidaritas mekanik muncul dalam komunitas online yang homogen—grup fandom, bubble politik, atau komunitas gaming. Sedangkan solidaritas organik muncul dalam dunia kerja digital yang membuat kita saling bergantung dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dan tentu saja, anomie muncul dalam bentuk baru: kecemasan digital, krisis identitas online, serta cepatnya perubahan norma di internet.
Pada akhirnya, Durkheim adalah seorang pemikir yang percaya bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Kita membutuhkan aturan, nilai, dan rasa keterhubungan. Kita membutuhkan sesuatu yang memberi arah dalam hidup. Dan di tengah dunia modern yang terus berubah, pemikiran Durkheim membantu kita memahami bahwa masyarakat selalu mencari cara untuk menemukan keseimbangan baru.