Pada awal abad ke-19, Eropa adalah panggung besar dari perubahan yang menghentak. Revolusi Prancis telah meruntuhkan monarki, membuka pintu bagi gagasan-gagasan kebebasan, namun juga menyisakan ketegangan politik yang tak pernah benar-benar padam. Industrialisasi mulai berjalan, menciptakan kota-kota baru, pabrik-pabrik yang hiruk pikuk, dan kelas pekerja yang jumlahnya kian membengkak. Dunia sedang berubah, cepat dan liar, seolah tidak memberi ruang bagi masyarakat untuk bernapas.
Di tengah pergolakan itu, seorang pemuda dari Montpellier bernama Isidore Marie Auguste François Xavier Comte, yang kelak dikenal sebagai Auguste Comte, mulai bertanya: apakah mungkin perubahan-perubahan ini diukur? Dipahami? Diprediksi?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi dampaknya revolusioner. Dari kegelisahan itulah, Comte menanam benih yang kelak tumbuh menjadi disiplin baru: sosiologi.
Comte lahir pada 19 Januari 1798 di sebuah keluarga Katolik dan konservatif. Orang tuanya berharap ia tumbuh menjadi pribadi religius yang patuh, tetapi sejak muda Comte sudah menunjukkan kecenderungan sebaliknya: kritis, rasional, dan tak begitu tertarik pada otoritas tradisional.
Ia kemudian diterima di École Polytechnique, salah satu institusi paling prestisius di Prancis. Di sana ia mengenal matematika, fisika, dan cara berpikir ilmiah. Namun kehidupan akademiknya tidak mulus. Setelah konflik
dengan pihak sekolah, Comte keluar tanpa gelar — dan memulai periode hidup yang sulit, penuh kesulitan keuangan dan beban mental.
Namun justru pada masa-masa inilah ia bertemu dengan Henri de Saint-Simon, seorang pemikir awal tentang masyarakat industri. Keduanya berkolaborasi, berdiskusi, dan saling memengaruhi. Saint-Simon memberi Comte ruang berpikir untuk mengembangkan idenya tentang masyarakat dan perubahan sosial. Meski pada akhirnya mereka berselisih, hubungan intelektual ini menjadi fondasi gagasan Comte.
Bagi Comte, masyarakat Eropa setelah revolusi berada dalam keadaan yang ia sebut sebagai “disorder moral” — kekacauan moral dan intelektual. Filsafat lama runtuh. Agama lama tak lagi jadi pusat kehidupan. Tradisi sosial melemah. Sementara itu sains berkembang tanpa arah moral yang jelas.
Comte melihat masyarakat sedang kehilangan “pengikat bersama”. Ia bertanya:
“Apa prinsip yang bisa membuat masyarakat tetap utuh di tengah perubahan besar ini?”
Ia percaya bahwa jawaban tidak ditemukan dalam agama, metafisika, atau spekulasi filsafat tradisional. Dunia yang baru memerlukan cara baru untuk dipahami.
Di sinilah Comte mengambil posisi:
Jika dunia fisik dapat dipahami melalui ilmu, mengapa dunia sosial tidak?
Jika bintang-bintang memiliki hukum pergerakan, bukankah masyarakat juga memiliki pola?
Gagasan itu begitu sederhana namun revolusioner. Ia berkesimpulan bahwa harus ada ilmu baru—ilmu tentang masyarakat—yang menggunakan metode ilmiah, observasi, dan logika untuk memahami kehidupan manusia.
Dengan keyakinan itu, Comte menciptakan satu kata yang mengubah sejarah ilmu pengetahuan: “Sociology.”
Salah satu gagasan utama Comte adalah positivisme. Teori ini berangkat dari kepercayaannya bahwa pengetahuan yang valid adalah pengetahuan yang dapat diuji dan dibuktikan melalui observasi. Positivisme menolak penjelasan tentang masyarakat yang menggunakan kekuatan supernatural, asumsi metafisik, atau spekulasi abstrak.
Menurut Comte, ada tiga syarat utama agar sebuah pengetahuan dianggap positif:
Dengan positivisme, Comte ingin menempatkan sosiologi setara dengan fisika, biologi, dan astronomi. Ia memimpikan dunia di mana masyarakat bisa direncanakan, dianalisis, dan diperbaiki secara ilmiah — bukan berdasarkan kekuasaan atau takhayul.
Hari ini, positivisme mungkin tampak kaku bagi sebagian pemikir, tetapi semangatnya tetap hidup. Banyak metode penelitian sosial modern — survei, statistik sosial, prediksi tren — merupakan warisan dari optimismenya terhadap kekuatan ilmu.
Salah satu teori paling terkenal dari Comte adalah Law of Three Stages — teori tentang perkembangan intelektual manusia dari masa ke masa.
Teori ini mendapatkan banyak kritik karena terlalu linier dan terlalu berorientasi Barat. Namun sebagai kerangka awal untuk memahami evolusi pemikiran manusia, teori ini sangat berpengaruh. Comte percaya bahwa masyarakat modern sedang bergerak menuju tahap positif — dan sosiologi adalah ilmu yang akan memimpin masa depan manusia.
Salah satu kontribusi penting Comte adalah pandangannya tentang masyarakat sebagai organisme. Baginya, masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, tetapi sebuah sistem hidup yang memiliki:
Statika sosial mempelajari struktur masyarakat: keluarga, agama, pemerintah, nilai sosial, moralitas, dan segala sesuatu yang menjaga masyarakat tetap stabil.
Ini adalah kajian tentang perubahan: bagaimana masyarakat berkembang dari satu tahap ke tahap lain, bagaimana konflik muncul, dan bagaimana teknologi mengubah kehidupan sosial.
Pemikiran ini kemudian banyak memengaruhi teori struktural-fungsionalisme, termasuk karya Émile Durkheim.
Hidup Comte bukanlah kisah tentang kejayaan yang mulus. Ia mengalami kemiskinan, gangguan mental, kegagalan akademik, kegagalan pernikahan, dan keterasingan dari komunitas ilmiah.
Namun kegigihannya luar biasa. Ia terus menulis, mengajar, dan menyusun gagasan sosiologi hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika ia mulai dielu-elukan oleh murid-muridnya sebagai pemimpin intelektual, Comte tetap hidup sederhana, dan sering dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Pada 1851–1854, ia menyelesaikan karya tiga jilid Système de politique positive, yang semakin mematangkan gagasan sosiologinya.
Comte wafat pada 5 September 1857, tetapi warisannya jauh melampaui hidupnya sendiri. Ia tidak hanya memberi nama bagi disiplin ilmu, tetapi juga memberikan kerangka dan ambisinya.
Dalam sejarah sosiologi, Comte digolongkan ke dalam teori klasik. Ia bersama tiga tokoh besar lain — Durkheim, Marx, Weber — membentuk “empat pilar” awal sosiologi.
Namun Comte memiliki posisi istimewa: dialah satu-satunya yang benar-benar menciptakan disiplin ini dari nol.
Tanpa Comte, sosiologi mungkin hanya salah satu cabang dari filsafat moral atau ekonomi politik. Ia-lah yang memisahkannya menjadi ilmu mandiri.
Yang menarik adalah bagaimana gagasan Comte tetap relevan di era internet. Ketika Comte berkata bahwa masyarakat harus dipahami lewat pola dan data, ia mungkin tidak membayangkan media sosial, big data, algoritma rekomendasi, atau analisis perilaku daring. Namun semangat positivismenya justru menemukan ruang terbesar pada masa kini.
Semua ini adalah wujud modern dari keinginan Comte: memahami masyarakat secara ilmiah.
Sosiologi digital hari ini—yang mempelajari bagaimana manusia hidup dalam dunia daring—mungkin merupakan perwujudan terbesar dari logika positivis Comte.
Tidak semua gagasan Comte diterima begitu saja. Ada beberapa kritik utama:
Terlalu Optimis terhadap Ilmu
Comte percaya sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Pemikir modern menganggap ini terlalu reduksionis.
Linear dan Etnosentris
Hukum Tiga Tahap dianggap terlalu menyederhanakan perkembangan intelektual manusia dan berorientasi pada pengalaman Barat.
Kecenderungan Otoritarian
Di akhir hidupnya, Comte membayangkan masyarakat di bawah “agama kemanusiaan” yang memiliki struktur moral dan sosial yang ketat. Gagasannya dinilai terlalu mengontrol.
Walau begitu, kritik tidak menghapus kontribusinya sebagai fondasi.
Auguste Comte memulai sosiologi bukan dari kenyamanan, tetapi dari kegelisahan. Ia hidup di zaman ketika dunia sosial sedang remuk redam, dan dari reruntuhan itu, ia mencari pola, struktur, dan hukum yang dapat memberi arah baru bagi manusia.
Mungkin begini cara terbaik menggambarkan Comte:
Ia adalah seseorang yang percaya bahwa kekacauan bisa dipahami, dan bahwa dari pemahaman itu, masyarakat bisa dibangun kembali.
Sosiologi lahir dari usaha manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Dan Comte adalah orang pertama yang menyalakan obor itu.